Breaking

logo

Jumat, 31 Mei 2019

Jokowi Resmi MENANG Prabowo Menolak KALAH!!! | Wonderdir Pilpres

Jokowi Resmi MENANG Prabowo Menolak KALAH!!! | Wonderdir Pilpres



Jokowi Resmi Menang, Prabowo Masih Terus Menolak Kalah.
Oleh: Karuni Rompies
Di Kutip Dari : Mata Mata Politik.
Joko Widodo telah memenangkan periode keduanya sebagai Presiden Indonesia dengan mandat luar biasa, meraih 55,5 persen dari total suara sah terhadap saingannya, Prabowo Subianto, menurut hasil Pilpres 2019 yang diumumkan KPU Selasa tengah malam (21/5).

Tetapi Prabowo telah bersumpah tidak akan menerima hasil itu, memaksa puluhan ribu polisi dan tentara untuk mengamankan jalan-jalan di Jakarta yang dipenuhi dengan pengikut gerakan “People Power” atau Kekuatan Rakyat, yang mendukung Prabowo.

Hasil resmi dari KPU menunjukkan lebih dari 85 juta pemilih mendukung Jokowi, dan 68 juta mendukung Prabowo. Margin kemenangan Jokowi sebesar 11 persen, hampir dua kali lipat dari keunggulan yang ia dapatkan pada Pilpres 2014 melawan Prabowo.

Partai Jokowi, PDIP, juga memenangkan tempat pertama dalam pemilu legislatif dengan 19,3 persen suara. Partai parlementer terbesar berikutnya adalah partai Gerindra milik Prabowo dengan 12,6 persen.

Masih belum jelas berapa banyak kursi yang akan diperoleh masing-masing partai dari 575 kursi yang diperebutkan.

Dalam sidang paripurna KPU, perwakilan dari kubu Prabowo menolak untuk menandatangani hasil akhir tersebut.

Tidak ada bukti kecurangan suara―keluhan utama Prabowo. Tetapi dalam situasi yang sama pada pilpres terakhir pada tahun 2014, Prabowo menantang hasilnya di Mahkamah Konstitusi, dan kalah.

Kali ini, Prabowo dan kubunya telah menyatakan bahwa mereka tidak akan mengajukan tuduhan kecurangannya ke Mahkamah Konstitusi, tetapi memilih untuk melakukan demonstrasi.

Jalan di depan kantor KPU di Jakarta Pusat telah ditutup sejak Senin malam (20/5), dengan lebih dari 32.000 personel polisi dan TNI dikerahkan untuk menjaganya dan kantor pemerintah lainnya.

Kemenangan Jokowi
Petugas polisi berjaga di luar gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) setelah pengumuman hasil Pilpres 2019 dini hari pada Selasa (21/5), yang memenangkan Presiden Jokowi.

Metro TV melaporkan bahwa sekitar 1.200 orang telah dihentikan oleh polisi sejak hari Minggu (19/5) untuk pergi ke Jakarta di mana mereka berencana untuk mengadakan demonstrasi pada hari Rabu (22/5).

Hasil Pilpres 2019 ini akan memungkinkan dia untuk fokus pada langkah-langkah untuk melindungi ekonomi Indonesia dari perang dagang AS-China yang mengancam akan melukai pertumbuhan dan memicu defisit perdagangan. Saham-saham negara, obligasi, dan mata uang telah merosot dalam sebulan terakhir karena investor asing semakin gelisah tentang prospek pertumbuhan ekonomi.

Jokowi telah mendesak warga untuk mematuhi hasil resmi dan tidak terpengaruh oleh klaim kecurangan. Dia memerintahkan pengeluaran infrastruktur agar dipercepat, terutama pada proyek-proyek perkotaan dan digital, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dia juga berjanji untuk mengurangi kemiskinan, menjaga harga tetap rendah dan meningkatkan pendapatan pajak. Pemerintah telah memulai penggerak infrastruktur senilai Rp490 triliun, yang terbesar dalam sejarah Indonesia, tetapi perlu berbuat lebih banyak untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, terutama dalam transportasi, dan listrik.

Pemerintah juga diharapkan untuk membelanjakan anggaran lebih banyak untuk pendidikan dan pelatihan.

Juru bicara Polri Muhammad Iqbal mendesak warga untuk tidak mengadakan aksi 22 Mei, demi keselamatan mereka. Pernyataan itu terkait dengan semakin banyaknya teroris yang diamankan yang menurut Polri telah merencanakan serangan pada hari pengumuman hasil Pilpres 2019 terkait rencana demonstrasi yang akan diadakan pendukung Prabowo. Indonesia, yang menjadi pos terdepan demokrasi di Asia Tenggara tengah bergolak akibat perlawanan Prabowo yang mengumumkan akan menolak hasil Pilpres 2019 yang sejauh ini menunjukkan kemenangan Jokowi.
Sebanyak 32.000 personel keamanan telah dikerahkan di Jakarta setelah adanya peringatan tentang kemungkinan serangan militan teroris selama pengumuman hasil resmi pemilu 2019, kata Polri.
Juru bicara Polri Muhammad Iqbal mengatakan polisi telah menangkap lebih dari 60 tersangka teroris sejak Januari, dengan 29 ditangkap bulan ini. Delapan tersangka terbunuh saat berusaha kabur dari penangkapan.

Dia mengatakan para tersangka berencana untuk meledakkan bom selama aksi 22 Mei, di hari ketika penghitungan suara resmi diumumkan.

Iqbal mengatakan 29 tersangka tersebut berafiliasi dengan Jemaah Ansharut Daulah (JAD), sebuah kelompok teroris yang dibentuk oleh Aman Abdurrahman, seorang teroris yang berafiliasi dengan Negara Islam yang sekarang menjadi narapidana di Nusakambangan. Dia mengatakan 18 orang dari kelompok itu terlibat dalam pembuatan bom.

“Kelompok ini mengambil momentum pemilu karena demokrasi bukanlah ideologi yang mereka ikuti. Kami meminta orang-orang untuk tidak turun ke jalan [pada 22 Mei] karena akan berbahaya. Mereka akan menyerang semua massa termasuk aparat keamanan.

“Penangkapan itu adalah tindakan preventif,” kata Iqbal yang memperlihatk

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact
close